Kehidupan kita sebenarnya bagai roda yang berputar
kadang kita ada diatas, didepan, diposisi yang aman,
namun kadang kita juga di bawah, dibelakang, dan dikemiringan yang berbahaya.
Namun, hal itu terus berputar seiring waktu.
Kita tidak mungkin selalu berada diatas, didepan, dan diposisi yang aman..
Kita juga pasti dibelakang, di bawah, dan dikemiringan yang membahayakan.
Seperti itulah kehidupan.
Kita kadang mengalami keberhasilan, keberuntungan, dan kemasyuran..
Tapi, pasti suatu saat kita juga mengalami kegagalan, ketidakberuntungan, dan kekalahan..
Maka, jika kita mengalami keberhasilan, keberuntungan, dan kemasyuran kita tidak boleh sombong dan takabur. Justru, gunakan hal tersebut dengan baik serta jangan lupa bagikan kebahagiaan kita dengan orang lain, sekejam-kejamnya dia.
Dan, bila kita mengalami kegagalan, ketidakberuntungan, dan kekalahan, kita harus bangkit, berfikir positif, dan ikhlaskan apa yang telah terjadi. Karena, kegagalan, ketidakberuntungan, dan kekalahan merupakan sebagian kecil dari cobaan yang Tuhan berikan sebagai tanda kasih sayangnya kepada kita.
Poppy's Official Blog
buka juga poppylegz.blogspot.com
Sabtu, 15 November 2014
Senin, 27 Oktober 2014
Penyesalanku Diharamkannya
Aku adalah seorang manusia biasa. Ya, aku tau aku memiliki banyak kesalahan kepada Tuhanku, dan kepada sesama manusia.
Aku pernah melakukan kesalahan, yakni meninggalkan permintaan terdesak dari kawan yang paling kusayang, sebut saja mereka Lina dan Kila.
Merekapun meninggalkan aku. Aku menyesal sekali telah melewatkan kesempatan indah untuk merasakan indahnya dunia ini bersama mereka. Aku sangat menyesal dan takut akan kehilangan mereka.
Namun, di tengah bulatnya tekadku, tentu badai penghalang akan menggangguku. Mereka bertiga bagai pagar besar bergembok kuat yang menutup pintu rumahku sendiri, sedangkan aku diusir sendiri dari rumah indahku tadi.
Beribu, bahkan berjuta kata "Maafkan aku" kulontarkan lembut secara langsung dan lewat gagdet kepada kedua sahabatku. Namun, apa daya. Pikiran mereka telah terpengaruh oleh terkotori sifat buruk pagar kekejaman rumahku, sebut saja mereka Alkan, dan Salma. Mereka mengharamkan kata "Kumaafkan engkau" untukku.
Tak hanya itu, sahabat-sahabat baruku juga telah mereka lempari kayu bakar fitnah tentangku. Sahabat-sahabat baruku pun juga ikut membantu penyebaran kayu bakar fitnah itu, bahkan meninggalkan aku pula, layaknya Lina dan Kila.
Pisau tajam nan licik telah Alkan, Salma dan orang yang telah mereka pengaruhi telah membuatku kesepian ditengah gelapnya dunia. Seakan-akan, aku telah dibutakan oleh kekejaman orang-orang yang kukasihi.
Aku tak memiliki kekuatan lagi. Hanya beberapa orang yang masih mempedulikanku. Itupun juga hanya sebatas teman.
Masihkah ada sedikit rasa sayang kepadaku dari Kila, Lina, Alkan, Salman dan sahabat-sahabat baruku? Sampai kapan aku harus menahan rasa pedih pisau nan tajam yang mereka goreskan kepadaku? Apakah rasa bersalahku harus kubawa sampai aku masuk ke liang kubur?
Aku telah mengikhlaskan apa-apa yang mereka lakukan padaku. Karena, aku tau, sekejam-kejamnya mereka padaku bila aku mengikhlaskannya Tuhan senantiasa berada di pihakku dan menunjukkan segala-gala yang benar.
Hanya senyumlah yang dapat kupancarkan setiap bertemu mereka. Walau setelah aku menyedekahkan senyum kepada orang yang telah goreskan luka hati mendalam padaku mereka hanya membicarakan keburukanku, aku maskih cukup bahagia aku masih bisa melontarkan senyum yang sebenarnya berat kuberrikan kepada mereka.
Aku pernah melakukan kesalahan, yakni meninggalkan permintaan terdesak dari kawan yang paling kusayang, sebut saja mereka Lina dan Kila.
Merekapun meninggalkan aku. Aku menyesal sekali telah melewatkan kesempatan indah untuk merasakan indahnya dunia ini bersama mereka. Aku sangat menyesal dan takut akan kehilangan mereka.
Namun, di tengah bulatnya tekadku, tentu badai penghalang akan menggangguku. Mereka bertiga bagai pagar besar bergembok kuat yang menutup pintu rumahku sendiri, sedangkan aku diusir sendiri dari rumah indahku tadi.
Beribu, bahkan berjuta kata "Maafkan aku" kulontarkan lembut secara langsung dan lewat gagdet kepada kedua sahabatku. Namun, apa daya. Pikiran mereka telah terpengaruh oleh terkotori sifat buruk pagar kekejaman rumahku, sebut saja mereka Alkan, dan Salma. Mereka mengharamkan kata "Kumaafkan engkau" untukku.
Tak hanya itu, sahabat-sahabat baruku juga telah mereka lempari kayu bakar fitnah tentangku. Sahabat-sahabat baruku pun juga ikut membantu penyebaran kayu bakar fitnah itu, bahkan meninggalkan aku pula, layaknya Lina dan Kila.
Pisau tajam nan licik telah Alkan, Salma dan orang yang telah mereka pengaruhi telah membuatku kesepian ditengah gelapnya dunia. Seakan-akan, aku telah dibutakan oleh kekejaman orang-orang yang kukasihi.
Aku tak memiliki kekuatan lagi. Hanya beberapa orang yang masih mempedulikanku. Itupun juga hanya sebatas teman.
Masihkah ada sedikit rasa sayang kepadaku dari Kila, Lina, Alkan, Salman dan sahabat-sahabat baruku? Sampai kapan aku harus menahan rasa pedih pisau nan tajam yang mereka goreskan kepadaku? Apakah rasa bersalahku harus kubawa sampai aku masuk ke liang kubur?
Aku telah mengikhlaskan apa-apa yang mereka lakukan padaku. Karena, aku tau, sekejam-kejamnya mereka padaku bila aku mengikhlaskannya Tuhan senantiasa berada di pihakku dan menunjukkan segala-gala yang benar.
Hanya senyumlah yang dapat kupancarkan setiap bertemu mereka. Walau setelah aku menyedekahkan senyum kepada orang yang telah goreskan luka hati mendalam padaku mereka hanya membicarakan keburukanku, aku maskih cukup bahagia aku masih bisa melontarkan senyum yang sebenarnya berat kuberrikan kepada mereka.
Langganan:
Komentar (Atom)