Aku adalah seorang manusia biasa. Ya, aku tau aku memiliki banyak kesalahan kepada Tuhanku, dan kepada sesama manusia.
Aku pernah melakukan kesalahan, yakni meninggalkan permintaan terdesak dari kawan yang paling kusayang, sebut saja mereka Lina dan Kila.
Merekapun meninggalkan aku. Aku menyesal sekali telah melewatkan kesempatan indah untuk merasakan indahnya dunia ini bersama mereka. Aku sangat menyesal dan takut akan kehilangan mereka.
Namun, di tengah bulatnya tekadku, tentu badai penghalang akan menggangguku. Mereka bertiga bagai pagar besar bergembok kuat yang menutup pintu rumahku sendiri, sedangkan aku diusir sendiri dari rumah indahku tadi.
Beribu, bahkan berjuta kata "Maafkan aku" kulontarkan lembut secara langsung dan lewat gagdet kepada kedua sahabatku. Namun, apa daya. Pikiran mereka telah terpengaruh oleh terkotori sifat buruk pagar kekejaman rumahku, sebut saja mereka Alkan, dan Salma. Mereka mengharamkan kata "Kumaafkan engkau" untukku.
Tak hanya itu, sahabat-sahabat baruku juga telah mereka lempari kayu bakar fitnah tentangku. Sahabat-sahabat baruku pun juga ikut membantu penyebaran kayu bakar fitnah itu, bahkan meninggalkan aku pula, layaknya Lina dan Kila.
Pisau tajam nan licik telah Alkan, Salma dan orang yang telah mereka pengaruhi telah membuatku kesepian ditengah gelapnya dunia. Seakan-akan, aku telah dibutakan oleh kekejaman orang-orang yang kukasihi.
Aku tak memiliki kekuatan lagi. Hanya beberapa orang yang masih mempedulikanku. Itupun juga hanya sebatas teman.
Masihkah ada sedikit rasa sayang kepadaku dari Kila, Lina, Alkan, Salman dan sahabat-sahabat baruku? Sampai kapan aku harus menahan rasa pedih pisau nan tajam yang mereka goreskan kepadaku? Apakah rasa bersalahku harus kubawa sampai aku masuk ke liang kubur?
Aku telah mengikhlaskan apa-apa yang mereka lakukan padaku. Karena, aku tau, sekejam-kejamnya mereka padaku bila aku mengikhlaskannya Tuhan senantiasa berada di pihakku dan menunjukkan segala-gala yang benar.
Hanya senyumlah yang dapat kupancarkan setiap bertemu mereka. Walau setelah aku menyedekahkan senyum kepada orang yang telah goreskan luka hati mendalam padaku mereka hanya membicarakan keburukanku, aku maskih cukup bahagia aku masih bisa melontarkan senyum yang sebenarnya berat kuberrikan kepada mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar